Secara
umum, manajemen laba didefinisikan sebagai upaya manajer perusahaan untuk
mengintervensi atau mempengaruhi informasi-informasi dalam laporan keuangan
dengan tujuan untuk mengelabui
stakeholder yang ingin mengetahui kinerja dan kondisi perusahaan. Tujuan utama
perusahaan, khususnya perusahaan swasta adalah untuk memperoleh laba. Oleh
karena itu manajemen laba sangat penting
untuk sebuah perusahaan karena dapat mempengaruhi nilai kinerja perusahaan
dimata masyarakat.
Contoh dari manajemen laba yang simpel misalnya dalam
pemilihan metode FIFO dan LIFO dimana dari pemilihan metode tersebut dapat
menghasilkan jumlah Harga Pokok Penjualan dan nilai Persediaan akhir yang
berbeda. Hal tersebut merupakan hal yang wajar sebab metode tersebut memang
diterapkan dalam praktek akuntansi. Namun yang menjadi masalah adalah ketika
manajer melakukan manajemen laba dengan cara yang tidak benar bahkan merugikan
banyak pihak, misalnya pada kasus Enron.
Pada
kasus enron, juga melibatkan KAP Arthur Andersen dimana enron merupakan klien
dari KAP tersebut. Dalam kasus ini KAP Arthur
Andersen juga harus merasakan akibatnya. Arthur
Andersen juga dinyatakan terbukti bersalah karena membantu menghancurkan
dokumen bukti serta keliru dalam melaksanakan tugasnya.
Dari hal-hal penerapan manajemen laba tersebut
dapat memberikan dampak yang berbeda. Hal ini dikembalikan kepada sikap manajer
dan perusahaaan apakah ingin menerapkan praktik bisnis yang sehat ataukah
sebaliknya. Untuk menjalankan praktik bisnis yang sehat tentunya diperlukan
cara-cara yang baik, tidak melanggar hukum dan tidak merugikan banyak pihak. Salah
satu caranya adalah dari cara menjalankan manajemen laba yang benar. Dalam
jurnal Tatang
Ary Gumanti yang berjudul Earnings Management: Suatu Telaah Pustaka dinyatakan
bahwa ada empat cara yang dapat
dilakukan oleh manajer untuk mengatur keuntungan yaitu melalui apa yang dikenal
sebagai akrual manajemen, penerapan suatu kebijakan akuntansi yang wajib lebih
awal atau tepat pada saat diwajibkan, melalui perubahan prosedur akuntansi yang
diperkenankan oleh badan akuntansi secara sukarela (voluntary accounting changes), dan melalui kebijaksanaan operasi,
investasi dan pembelanjaan (operating,
investing and financing activities).
Sumber:
Tatang
Ary Gumanti, “Earnings Management: Suatu Telaah Pustaka”, Jurnal Akuntansi
& Keuangan, Volume 2, November 2000, hlm 104-115.